![]() |
| Salvatore "Toto" Schillaci. (Foto: Istimewa) |
PACITANTERKINI.ID - Dalam sejarah sepak bola dunia, hanya sedikit pemain yang mampu menciptakan kisah seajaib Salvatore "Toto" Schillaci. Penyerang asal Italia itu bukanlah sosok yang diprediksi akan menjadi bintang besar. Namun dalam kurun waktu hanya tiga minggu pada Piala Dunia 1990, Schillaci menjelma menjadi pemain paling dibicarakan di planet ini.
Keajaiban yang terjadi pada musim panas 1990 tersebut membuat namanya dikenang hingga kini sebagai salah satu fenomena terbesar dalam sejarah sepak bola.
"Jika dipikir-pikir, karier internasional saya hanya berlangsung selama tiga minggu."
Kalimat itu pernah diucapkan Schillaci saat mengenang perjalanan kariernya yang luar biasa sekaligus penuh ironi.
Dari Kasta Bawah Sepak Bola Italia ke Juventus
Jauh sebelum menjadi pahlawan Italia di Piala Dunia 1990, Schillaci menjalani perjalanan panjang yang penuh perjuangan.
Lahir di Palermo, Sisilia, ia menghabiskan sebagian besar awal kariernya bersama Messina. Dari 1982 hingga 1989, Schillaci bermain di Serie C dan Serie B, jauh dari sorotan media maupun perhatian publik.
Selama tujuh tahun, namanya nyaris tidak dikenal. Namun kerja kerasnya mulai membuahkan hasil pada musim 1988-89 ketika ia tampil luar biasa bersama Messina.
Saat itu Schillaci berhasil menjadi top skor Serie B dengan torehan 23 gol. Penampilan impresif tersebut menarik perhatian Juventus yang kemudian merekrutnya pada musim panas 1989. Kesempatan itu menjadi titik balik terbesar dalam hidupnya.
Musim Ajaib yang Mengubah Segalanya
Banyak pemain mengalami kesulitan beradaptasi ketika bergabung dengan klub sebesar Juventus. Namun Schillaci justru tampil mengejutkan.
Pada musim debutnya di Serie A 1989-90, ia mencetak 15 gol di liga dan total 21 gol di semua kompetisi. Ketajamannya membuat pelatih tim nasional Italia saat itu, Azeglio Vicini, memasukkannya ke dalam skuad Piala Dunia 1990. Meski demikian, Schillaci bukanlah pilihan utama.
Sebelum turnamen berlangsung, ia baru sekali tampil bersama tim nasional Italia. Nama-nama seperti Gianluca Vialli dan Andrea Carnevale lebih diunggulkan untuk mengisi lini depan Gli Azzurri. Namun takdir berkata lain.
Piala Dunia 1990: Tiga Minggu yang Mengubah Hidup Toto Schillaci
Pada pertandingan pembuka melawan Austria, Italia mengalami kesulitan membongkar pertahanan lawan. Schillaci masuk dari bangku cadangan.
Hanya empat menit kemudian, ia mencetak gol kemenangan lewat sundulan yang menggetarkan seluruh Italia. Momen itu menjadi awal dari kisah dongeng yang tidak pernah dilupakan para pencinta sepak bola.
"Setelah gol ke gawang Austria itu, rasanya seperti saya berada dalam keadaan trance. Apa pun yang saya sentuh berubah menjadi gol. Itu adalah tiga minggu yang diberikan Tuhan," kenang Schillaci dalam sebuah wawancara bertahun-tahun kemudian. Sejak saat itu, ia terus mencetak gol di setiap fase penting turnamen.
Schillaci mencetak gol saat menghadapi Cekoslowakia pada fase grup, menjebol gawang Uruguay di babak 16 besar, mencetak gol kemenangan atas Republik Irlandia di perempat final, membobol gawang Argentina di semifinal, dan kembali mencetak gol saat Italia mengalahkan Inggris dalam perebutan tempat ketiga.
Ketika turnamen berakhir, Schillaci mengoleksi enam gol. Jumlah tersebut membuatnya meraih Sepatu Emas sebagai top skor Piala Dunia 1990. Tak hanya itu, ia juga memenangkan Bola Emas sebagai pemain terbaik turnamen. Dari pemain nyaris tak dikenal, Schillaci berubah menjadi superstar dunia hanya dalam hitungan minggu.
Mengapa Karier Toto Schillaci Cepat Meredup?
Banyak pihak memperkirakan Schillaci akan mendominasi sepak bola Eropa selama bertahun-tahun. Namun kenyataannya berbeda.
Setelah Piala Dunia 1990, performanya perlahan menurun. Bersama tim nasional Italia, Schillaci hanya memainkan delapan pertandingan tambahan dan mencetak satu gol lagi.
Karier internasionalnya berakhir dengan catatan 16 penampilan dan tujuh gol. Menariknya, enam dari tujuh gol tersebut tercipta selama tiga minggu luar biasa di Piala Dunia 1990. Di level klub, penurunan performanya juga sangat terlihat.
Setelah mencetak 15 gol pada musim debut bersama Juventus, Schillaci tidak pernah lagi mencetak lebih dari enam gol dalam satu musim Serie A.
Selama memperkuat Juventus dan kemudian Inter Milan, produktivitasnya terus menurun. Beberapa faktor menjadi penyebab kemerosotan tersebut.
Pertama, statusnya yang sebelumnya tidak dikenal membuat para bek kesulitan membaca gaya bermainnya. Setelah Piala Dunia, seluruh Italia dan Eropa sudah memahami karakter permainannya.
Kedua, serangkaian cedera otot dan lutut mengurangi kecepatan serta agresivitas yang menjadi senjata utamanya di kotak penalti.
Ketiga, tekanan besar sebagai pahlawan nasional ternyata tidak mudah dihadapi. Ekspektasi publik yang sangat tinggi, ditambah persaingan dengan pemain-pemain besar seperti Roberto Baggio, turut memengaruhi kepercayaan dirinya.
Menemukan Kehidupan Baru di Jepang
Setelah kariernya di Italia mengalami kemunduran, Schillaci memilih tantangan baru dengan bergabung ke klub Jepang, Jubilo Iwata. Keputusan tersebut terbukti tepat.
Di Jepang, ia kembali menemukan sentuhan terbaiknya dan berhasil mencetak 56 gol sebelum akhirnya pensiun pada tahun 1997.
Meski tidak lagi berada di panggung utama sepak bola Eropa, Schillaci tetap menunjukkan bahwa naluri mencetak golnya belum benar-benar hilang.
Warisan Abadi Sang Pahlawan Italia '90
Sejarah sepak bola mengenal banyak pemain hebat yang mendominasi selama satu dekade atau bahkan lebih.
Namun Schillaci berbeda. Ia hanya membutuhkan tiga minggu untuk mengukir namanya dalam sejarah.
Pada September 2024, Toto Schillaci meninggal dunia pada usia 59 tahun. Kepergiannya memunculkan kembali kenangan tentang salah satu kisah paling unik yang pernah terjadi dalam sepak bola dunia.
Tatapan matanya yang tajam saat merayakan gol, enam gol spektakuler di Piala Dunia 1990, serta kisah transformasinya dari pemain kasta bawah menjadi pahlawan nasional akan selalu dikenang.
Toto Schillaci mungkin hanya bersinar sebentar. Namun dalam waktu yang sangat singkat itu, ia berhasil mencapai puncak yang bahkan gagal diraih banyak legenda sepak bola sepanjang karier mereka.
Ia datang, melihat, menaklukkan dunia, lalu menghilang hampir secepat kemunculannya. Dan justru karena itulah, namanya tetap hidup selamanya dalam sejarah sepak bola.***
.jpeg)
