TUz9TUYiBSO8GfCoGfd8TpO0BY==

Liverpool Terancam Gagal ke Liga Champions, Kerugian Rp 1 Triliun Mengintai Era Arne Slot

Liverpool di bawah asuhan Arne Slot terancam gagal lolos ke Liga Champions. (Foto: Istimewa)

PACITANTERKINI.ID Ancaman gagal lolos ke Liga Champions mulai membayangi Liverpool di bawah asuhan Arne Slot. Meski sempat menstabilkan performa tim pada akhir November, rentetan hasil buruk dalam dua bulan terakhir membuat posisi The Reds kembali berada dalam tekanan berat, baik secara sportif maupun finansial.

Sembilan kekalahan dari 12 pertandingan terakhir membuat Liverpool kehilangan momentum penting menjelang pergantian tahun. Hingga akhir Desember 2025, juara bertahan itu memang masih bertahan di peringkat keempat klasemen Liga Inggris, unggul tiga poin dari Chelsea dan Manchester United. Namun performa inkonsisten membuat peluang mereka untuk mengamankan tiket Liga Champions musim depan jauh dari kata aman.

Kemenangan terakhir Liverpool di liga terjadi pada 27 Desember, saat mereka menaklukkan Wolverhampton Wanderers 2-1. Sejak itu, The Reds hanya mengumpulkan empat poin dari 15 poin maksimal, membuat persaingan menuju zona Eropa semakin ketat.

Ancaman Finansial Mengintai

Gagal lolos ke Liga Champions bukan sekadar masalah prestasi, tetapi juga berpotensi menjadi bencana finansial bagi Liverpool. Sejak 2017, hanya satu kali klub asal Merseyside itu absen dari kompetisi elit Eropa tersebut.

Dampaknya terlihat jelas pada laporan keuangan musim 2023/24, saat Liverpool bermain di Liga Europa dan tersingkir di perempat final oleh Atalanta. Klub mencatat kerugian sebelum pajak sebesar £57 juta, meskipun pendapatan hari pertandingan, komersial, dan total pendapatan mengalami peningkatan.

Masalah utama terletak pada pendapatan media, yang turun drastis menjadi hanya £38 juta, akibat absennya Liverpool dari Liga Champions yang menawarkan nilai siar jauh lebih tinggi.

Sebagai perbandingan, perjalanan Liverpool ke babak 16 besar Liga Champions musim lalu – di mana mereka disingkirkan Paris Saint-Germain – diperkirakan menghasilkan sekitar £82 juta hanya dari kompetisi tersebut.

Investasi Besar, Risiko Besar

Situasi ini semakin berbahaya mengingat Liverpool baru saja melakukan belanja besar-besaran di musim panas. Klub memecahkan rekor transfer dua kali untuk merekrut Florian Wirtz (£116 juta) dan Alexander Isak (£125 juta), ditambah Hugo Ekitike (£79 juta) serta Milos Kerkez (£40 juta).

Total belanja mendekati £450 juta, sementara pemasukan dari penjualan pemain hanya menutup sekitar setengahnya.

Bagi klub yang terkenal berhati-hati di bawah kepemilikan Fenway Sports Group, absennya pendapatan Liga Champions bisa mengganggu keseimbangan keuangan jangka panjang.

Tekanan pada Arne Slot dan Richard Hughes

Liverpool dikenal sebagai klub dengan manajemen paling stabil di Eropa. Laporan Deloitte Money League terbaru bahkan menempatkan mereka sebagai klub dengan pendapatan tertinggi di Inggris.

Namun musim ini kembali menegaskan satu masalah lama: kedalaman skuad.

Meski memiliki deretan pemain mahal, Liverpool masih terlihat rapuh ketika jadwal padat menghantam. Cedera, rotasi terbatas, dan minimnya konsistensi membuat Arne Slot mulai mendapat sorotan tajam.

Jika Liverpool gagal lolos ke Liga Champions, tekanan tidak hanya akan mengarah ke Slot, tetapi juga ke direktur olahraga Richard Hughes, yang bertanggung jawab atas perencanaan skuad.

Momen Penentu di Anfield

Beberapa bulan ke depan diam-diam menjadi periode krusial bagi masa depan Liverpool. Bukan hanya soal posisi klasemen, tetapi menyangkut arah kebijakan transfer, stabilitas finansial, dan legitimasi proyek Arne Slot.

Bagi klub yang terbiasa bermain di panggung elite Eropa, menonton Liga Champions dari sofa akan menjadi pukulan ganda: kehilangan prestise sekaligus kehilangan ratusan juta pound.

Dan bagi Liverpool, harga kegagalan musim ini bisa terasa hingga bertahun-tahun ke depan.***

slot

Ketik kata kunci lalu Enter

close